Sharing dari Whatsapp Group Berbagi Nasehat….

Jazakallah khair uda Acad Syahrial (y)
***
JURUS JITU MENDIDIK ANAK
<Ustadz Abdullah Zaen>
بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
🔵 Jurus Ke-①: Mendidik Anak Perlu ‘Ilmu
‘Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhannya terhadap ‘ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ‘ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.
Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ‘ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ‘ilmu untuk menjadi orang tua. Padahal, tugas kita menjadi orang tua itu 24 empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja saja.
Betapa banyak suami yang menyandang gelar “bapak” hanya karena istrinya melahirkan, sebagaimana banyak perempuan disebut “ibu” semata-mata karena dia lah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orang tua, bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orang tua.
Padahal, menjadi orang tua harus berbekal ‘ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tidaklah cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.

Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.

Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.
Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orang tuanya, kecuali perhatian, ketulusan, dan kasih sayang…!
▸ ‘Ilmu apa saja yang dibutuhkan…?

Banyak jenis ‘ilmu yang dibutuhkan orang tua di dalam mendidik anaknya. Mulai dari ‘ilmu agama dengan berbagai variannya, hingga ‘ilmu cara berkomunikasi dengan anak.
Jenis ‘ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orang tua adalah aqidah, sehingga ia bisa menanamkan aqidah yang lurus dan keîmânan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabî صلى الله عليه و سلم mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk ‘Abdullôh ibn ‘Abbâs رضي الله عنهما:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه

(arti) “Apabila engkau memohon, mohonlah kepada الله, dan apabila engkau meminta pertolongan, mintalah kepada الله.” [HR at-Tirmidzî ~ beliau berkomentar: “hasan shohîh”].
Selanjutnya, ‘ilmu tentang cara ibadah, terutama sholât dan cara thoharoh (bersuci), demi merealisasikan wasiat Nabî صلى الله عليه و سلم untuk para orang tua:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر

(arti) “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholât saat berumur 7 tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur 10 tahun.” [HR Abû Dâwûd ~ dinilai shohîh oleh Syaikh al-Albânî].
Bagaimana mungkin orang tua akan memerintahkan sholât pada anaknya, apabila ia tidak mengerti tata-cara sholât yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk memberikan sesuatu kepada orang lain…?
Berikutnya, ‘ilmu tentang akhlaq, mulai adab terhadap orang tua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain. Dalam hal ini Nabî صلى الله عليه و سلم mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika Beliau صلى الله عليه و سلم bersabda menasehati seorang anak kecil:
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ

(arti) “Wahai Ananda, ucapkanlah bismillâh (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu.” [HR al-Bukhôrî dan Muslim, dari ‘Umar ibn Abî Salamah].
Yang tidak kalah pentingnya adalah: ‘ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif, atau sebaliknya yang pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Serta berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.
🔵 Jurus Ke-②: Mendidik Anak Perlu Keshôlihan Orang Tua
Tentu anda masih ingat kisah “petualangan” Nabî Khidhir عليه السلام dengan Nabî Mûsâ عليه السلام, bukan…?
Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang الله Subhânahu wa Ta‘âlâ sebutkan dalam QS al-Kahfi (18), manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekedar menjamu mereka berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk. Lalu dengan ringan tangan Nabî Khidhir عليه السلام memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabî Mûsâ عليه السلام terheran-heran melihat tindakannya. Nabî Khidhir pun beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orang tua mereka yang shôlih, di mana الله berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan mengambil manfaat dari harta itu.
Para Ahli Tafsir menyebutkan bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah: الله akan menjaga keturunan seseorang manakala ia shôlih walaupun ia telah wafat sekalipun.
Subhânallôh, begitulah dampak positif keshôlihan orang tua…!
Sekalipun telah wafat, masih tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup? Maka tentu lebih besar dan lebih besar lagi dampak positifnya.
▸ Urgensi keshôlihan orang tua dalam mendidik anak

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama, yaitu ingin agar keturunan kita menjadi anak yang shôlih dan shôlihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: keshôlihan dan ketaqwaan kita selaku orang tua…!
Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi shôlih dan bertaqwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa…?
Keshôlihan jiwa dan perilaku orang tua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk keshôlihan anak. Sebab, ketika si anak membuka matanya di muka Bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orang tuanya berhias akhlaq mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya, dan in syâ’-Allôh itu pun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya.
Pepatah mengatakan: “buah takkan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketaqwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketaqwaan kedua orang tuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru…!
▸ Beberapa contoh aplikasi nyatanya

Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan sholât lima waktu, raihlah tangannya dan berangkatlah ke Masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke Masjid, sedangkan anda asyik menonton televisi.
Jika anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu, ataupun kaset dan radio. Jangan malah anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu…!
Kalau anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan: “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”, tetapi ternyata, kita malah pulang malam…!?!
Di dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.
Terus apa yang sebaiknya kita lakukan…?
Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian: “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, in syâ’-Allôh kamu bisa ikut.”
Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus-menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.
Anda ingin anak jujur…? Mulailah dari diri Anda sendiri…!
▸ Sebuah renungan

Tidak ada salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas, lalu kita bandingkan dengan jaman ini dan dampaknya yang luar biasa untuk para orang tua dan anak.
Dahulu, masih banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dengan sabar bercerita tentang kisah para Nabiyullôh, para Shohâbat hingga teladan dari para ‘Ulamâ’, sekarang mereka lebih nyaman untuk menghabiskan waktu ber-facebook-an dan akrab dengan artis di televisi. Dahulu bapak-bapak mengajari anaknya sejak dini tata-cara wudhu’, sholât, dan ibadah primer lainnya, sekarang mereka sibuk mengikuti berita transfer pemain bola…!
Bagaimana kondisi anak-anak saat ini, dan apa yang akan terjadi di negeri kita 50 tahun ke depan, jika kondisi kita terus seperti ini…?!?
Jika kita tidak ingin menjumpai mimpi buruk kehancuran negeri ini, persiapkan generasi muda sejak sekarang. Kemudian untuk merealisasikan hal itu, mulailah dengan memperbaiki diri kita sendiri selaku orang tua, sebab mendidik anak memerlukan keshôlihan orang tua.
🔵 Jurus Ke-③: Mendidik Anak Perlu Keikhlashan
Ikhlash merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlashan bagaikan jasad yang tak bernyawa, termasuk juga enis amalan yang harus dilandasi keikhlashan adalah mendidik anak.
Apa maksudnya…?
Maksudnya adalah: rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niyat ikhlash semata-mata mengharapkan keridhoan الله Subhânahu wa Ta‘âlâ.
Canangkan niat semata-mata untuk الله dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman. Iringilah setiap kata yang kita ucapkan dengan keikhlashan.
Bahkan, di dalam setiap perbuatan yang kita lakukan untuk merawat anak, entah itu bekerja membanting tulang guna mencari nafkah untuknya, menyuapinya, memandikannya, hingga mengganti popoknya, niyatkanlah semata karena mengharap ridha الله Subhânahu wa Ta‘âlâ.
▸ Apa sih kekuatan keikhlashan…?
Ikhlash memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat, di antaranya:
✓ Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.

Proses membuat dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Puluhan tahun! Tentu di rentang waktu yang cukup panjang tersebut, terkadang muncul dalam hati rasa jenuh dan kesal karena ulah anak yang kerap menjengkelkan. Seringkali tubuh terasa super capek karena banyaknya pekerjaan; cucian yang menumpuk, berbagai sudut rumah yang sebentar-sebentar perlu dipel karena anak ngompol di sana sini dan tidak ketinggalan mainan yang selalu berserakan dan berantakan di mana-mana.
Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan…?
Jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlashan…!
Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.
✓ Dengan keikhlashan, ucapan kita akan berbobot.

Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.
Apa yang membedakan…?
Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika anda ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika anda ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang anda lahirkan dengan susah payah itu, in syâ’-Allôh akan menjadi perkataan yang berbobot. Sebab, bobot kata-kata kita kerap bersumber bukan dari manisnya tutur kata, melainkan karena kuatnya penggerak dari dalam dada; îmân kita dan keikhlashan kita.
✓ Dengan keikhlashan anak kita akan mudah diatur.

Jangan pernah meremehkan perhatian dan pengamatan anak kita. Anak yang masih putih dan bersih dari noda dosa akan begitu mudah merasakan suasana hati kita. Dia bisa membedakan antara tatapan kasih sayang dengan tatapan kemarahan, antara dekapan ketulusan dengan pelukan kejengkelan, antara belaian cinta dengan cubitan kesal. Bahkan, ia pun bisa menangkap suasana hati orang tuanya, sedang tenang dan damaikah, atau sedang gundah gulana?
Manakala si anak merasakan ketulusan hati orang tuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.
✓ Dengan keikhlashan kita akan memetik buah manis pahala.

Keikhlashan bukan hanya memberikan dampak positif di Dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana, yang itu berujung kepada berkumpulnya orang tua dengan anak-anaknya di negeri keabadian: Syurga الله yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan:
وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

(arti) “Orang-orang yang berîmân, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keîmânan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka.” [QS ath-Thur () ayat 21].
Dipertemukan di mana?
Di Syurga الله Subhânahu wa Ta‘âlâ…!
Mulailah dari sekarang, latih dan biasakan diri untuk ikhlash dari sekarang, sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan.
Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu buat anakmu, aduklah ia dengan penuh keikhlashan sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk.
Kalau engkau menyuapkan makanan untuknya, suapkanlah dengan penuh keikhlashan sembari memohon kepada الله agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama الله.
Sehingga dengan itu, semoga setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka akan bersemangat untuk senantiasa menuntut ‘ilmu, beribadah dengan tekun kepada الله, dan meninggikan agama-Nya. Âmîn yâ mujîbassâ‘ilîn…
🔵 Jurus Ke-④: Mendidik Anak Perlu Kesabaran
Sabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di Dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.
Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab, rentang waktunya tidak sebentar, dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.
▸ Contoh aplikasi kesabaran:
✓ Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anak.

Anak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم menggambarkan hal itu dalam sabdanya:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

(arti) “Setiap bayi lahir dalam keadaan fithroh. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahûdi, Nashrônî, atau Majûsi.” [HR al-Bukhôrî dan Muslim, dari Abû Huroiroh رضي الله عنه].
Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.
Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi, niscaya ia akan awet dan tahan lama.
✓ Sabar dalam menghadapi pertanyaan anak.

Menghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit.
Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya. Sesungguhnya, kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, “seburuk” apapun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab.
Maka, jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.
Jika kita ogah-ogahan untuk menjawab pertanyaan anak atau menjawab sekenanya atau bahkan justru menghardiknya, hal itu bisa berakibat fatal. Anak tidak lagi percaya dengan kita, sehingga ia akan mencari orang di luar rumah yang dianggapnya bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaannya. Di mana tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang ditemuinya di luar adalah orang baik-baik. Ingat betapa rusaknya pergaulan di luar saat ini…!
✓ Sabar menjadi pendengar yang baik.

Banyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.
Salah satu contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya siang ternyata baru pulang sore hari. Kita tidak mendapat pemberitahuan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita merasa kesal menunggu, sekaligus juga khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak berbicara, kita selalu memotongnya, dengan ungkapan: “Sudah-sudah tidak perlu banyak alasan”, atau: “Ah, Papa / Mama tahu kamu pasti main ke tempat itu lagi kan..!?!”
Akibatnya, ia malah tidak mau bicara dan marah pada kita. Pada saat seperti itu, yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah ingin didengarkan terlebih dahulu dan ingin diperhatikan. Mungkin keterlambatannya ternyata disebabkan adanya tugas mendadak dari sekolah. Ketika anak tidak diberi kesempatan untuk berbicara, ia merasa tidak dihargai dan akhirnya ia juga berbalik untuk tidak mau mendengarkan kata-kata kita.
Yang sebaiknya dilakukan adalah, kita memulai untuk menjadi pendengar yang baik. Berikan kepada anak waktu yang seluas-luasnya untuk mengungkapkan segalanya. Bersabarlah untuk tidak berkomentar sampai saatnya tiba. Ketika anak sudah selesai menjelaskan duduk permasalahan, barulah anda berbicara dan menyampaikan apa yang ingin anda sampaikan.
✓ Sabar manakala emosi memuncak.

Hendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak, karena pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.
Yang seyogyanya dilakukan adalah: bila kita dalam keadaan sangat marah, segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk menurunkan amarah kita dengan segera. Bisa dengan mengamalkan tuntunan Nabî صلى الله عليه و سلم, yakni berwudhu’.
Jika kita bertekad untuk tetap memberikan sanksi, tundalah sampai emosi kita mereda. Setelah itu, pilih dan susunlah bentuk hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuatnya. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik, bukan untuk menyakiti.
Berakit-rakit ke hulu. Pepatah ‘Arab mengatakan: “Sabar bagaikan buah brotowali, pahit rasanya, namun kesudahannya lebih manis daripada madu”.
Sabar dalam mendidik anak memang terasa berat, namun tunggulah buah manisnya kelak di Dunia maupun di Akhirat. Di Dunia mereka akan menjadi anak-anak yang menurut kepada orang tuanya, in syâ’-Allôh, dan manakala kita telah masuk di Alam Akhirat, mereka akan terus mendo‘akan kita, sehingga curahan pahala terus mengalir deras. Semoga…
🔵 Jurus Ke-⑤: Mendidik Anak Perlu Iringan Do‘a
Beberapa saat lalu saya mampir Sholât Jum‘at di Masjid salah satu perumahan di bilangan Sokaraja, Banyumas. Di sela-sela khutbahnya, Khotîb bercerita tentang kejadian yang menimpa sepasang suami istri. Keduanya terkena stroke, namun sudah sekian bulan tidak ada satu pun di antara anaknya yang datang menjenguk.
Manakala dibesuk oleh si Khotîb, sang bapak bercerita sambil menangis terisak: “Mungkin الله telah mengabulkan do‘a saya. Sekarang inilah saya merasakan akibat dari do‘a saya! Dahulu saya selalu berdo‘a agar anak-anak saya jadi ‘orang’. Berhasil, kaya, sukses dst. Benar, ternyata الله mengabulkan seluruh permintaan saya. Semua anak saya sekarang menjadi orang kaya dan berhasil. Mereka tinggal di berbagai pulau di Tanah Air, jauh dari saya. Memang mereka semua mengirimkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit, dan semua menelpon saya untuk segera berobat. Namun, bukan itu yang saya butuhkan saat ini. Saya ingin belaian kasih sayang tangan mereka. Saya ingin dirawat dan ditunggu mereka, sebagaimana dulu saya merawat mereka.”
Iya, berhati-hatilah anda dalam memilih redaksi do‘a, apalagi jika itu ditujukan untuk anak anda. Tidak ada redaksi yang lebih baik dibandingkan redaksi do‘a yang diajarkan dalam al-Qur-ân dan al-Hadîts.
“Robbanâ hablanâ min azwâjinâ wa dzurriyyâtinâ qurrota ‘ayun, waj‘alnâ lil muttaqîna imâmâ” – Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan pandangan mata. Serta jadikanlah kami imâm bagi kaum Muttaqin [lihat: QS al-Furqôn (25) ayat 74].
▸ Seberapa besar sih kekuatan do‘a…?
Sebesar apapun usaha orang tua dalam merawat, mendidik, menyekolahkan dan mengarahkan anaknya, andaikan الله Subhânahu wa Ta‘âlâ tidak berkenan untuk menjadikannya anak shôlih, niscaya ia tidak akan pernah menjadi anak shôlih.
Hal ini menunjukkan betapa besar kekuasaan الله dan betapa kecilnya kekuatan kita. Ini jelas memotivasi kita untuk lebih membangun ketergantungan dan rasa tawakkal kita kepada الله Subhânahu wa Ta‘âlâ, dengan cara antara lain:

▫ memperbanyak menghiba,

▫ merintih,

▫ memohon bantuan dan pertolongan dari الله dalam segala sesuatu, terutama dalam hal mendidik anak.
Secara khusus, do‘a orang tua untuk anaknya begitu spesial. Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم menjelaskan hal itu dalam sabdanya:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

(arti) “Tiga do‘a yang akan dikabulkan tanpa ada keraguan sedikit pun: do‘a orang tua, do‘a musafir, dan do‘a orang yang dizhôlimi.” [HR Abû Dâwûd, dari Abû Huroiroh رضي الله عنه ~ dinyatakan “hasan” oleh Syaikh al-Albânî].
▸ Sejak kapan kita mendo‘akan anak kita…?
Sejak anda melakukan proses hubungan suami istri telah disyari‘atkan untuk berdo‘a demi keshôlihan anak anda. Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم mengingatkan:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ وَقَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا” فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ

(arti) “Jika salah seorang dari kalian sebelum bersetubuh dengan istrinya ia membaca: ‘bismillâh, allôhumma jannibnasysyaithôna wa jannibisysyaithôna mâ rozaqtanâ’ (dengan nama الله, wahai الله, jauhkanlah kami dari Syaithôn dan jauhkanlah Syaithôn dari apa yang Engkau karuniakan pada kami), lalu mereka berdua dikaruniai anak, niscaya Syaithôn tidak akan bisa mencelakakannya.” [HR al-Bukhori no 3271; Muslim no 3519, dari Ibnu ‘Abbâs رضي الله عنهما].
Ketika anak telah berada di kandungan pun, jangan pernah lekang untuk menengadahkan tangan dan menghadapkan diri kepada الله Subhânahu wa Ta‘âlâ untuk memohon agar kelak keturunan yang lahir ini menjadi generasi yang baik. Nabî Ibrôhîm عليه الصلاة و السلام mencontohkan:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

(arti) “Wahai Robbi, anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang shôlih.” [QS ash-Shôffât (37) ayat 100].
Nabî Zakariyyâ عليه السلام juga demikian:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

(arti) “Wahai Robbi, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do‘a.” [QS Âli ‘Imrôn (3) ayat 38].
Setelah lahir hingga anak dewasa sekalipun, kawal dan iringilah terus dengan doa. Pilihlah waktu-waktu yang mustajab. Antara adzan dengan iqamah, dalam sujud dan di sepertiga malam terakhir misalnya.Bahkan tidak ada salahnya ketika berdoa, Anda perdengarkan doa tersebut di hadapan anak Anda. Selain untuk mengajarkan doa-doa nabawi tersebut, juga agar dia melihat dan memahami betapa besar harapan Anda agar dia menjadi anak salih.
▸ Awas, hati-hati…!
Do‘a orang tua itu mustajab, baik do‘a tersebut bermuatan baik maupun buruk. Maka berhati-hatilah, wahai para orang tua. Terkadang ketika anda marah, tanpa terasa terlepas kata-kata yang kurang baik terhadap anak anda, lalu الله mengabulkan ucapan tersebut, akibatnya anda menyesal seumur hidup.
Dikisahkan ada seorang yang mengadu kepada Imâm Ibnu al-Mubarok رحمه الله mengeluhkan tentang anaknya yang durhaka. Beliau bertanya: “Apakah engkau pernah mendo‘akan tidak baik untuknya?”

“Ya” sahutnya.

“Engkau sendiri yang merusak anakmu!” pungkas sang Imâm.
Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita pentingnya ‘ilmu di dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis ta’lim, membaca buku-buku panduan pendidikan – agar kita betul-betul menjadi orang tua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya…!
Semoga الله senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, âmîn…
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله و صحبه أجمعين
»»•««

Assalamu’alaikum warohamatullohi wabarokatuh

Berikut ini adalah kurikulum yang saya adaptasi untuk kegiatan belajar anak-anak saya di rumah. Kurikulum ini saya ambil dari website ummiummi.com. Alhamdulillah materinya mudah untuk diajarkan pada anak-anak. Selamat mencoba ya.

A. AKU (3 Pekan)

  1. Identitasku  (Nama, umur, jenis kelamin, nama ayah ibu, alamat rumah)
  2. Nama anggota tubuh (kepala, rambut, mata, telinga, hidung, mulut, tangan, dll)
  3. Ciri anggota tubuh (warna, bentuk, jumlah).
  4. Kesukaanku (makanan, minuman, permainan, kegiatan, dll)
  5. Alat indra dan fungsinya (mata, telinga, hidung, mulut, tangan)
  6. Macam-macam rasa (manis, pahit, asin, asam, pedas)
  7. Macam-macam perabaan (kasar, halus,tajam, panas, dingin)
  8. Macam-macam pembauan(wangi, amis/anyir, busuk, sedap)
  9. Macam-macam suara (keras, lembut, nyaring, melengking, mendengung, menggema)
  10. Macam-macam penglihatan(jelas, buram, jauh, dekat, silau, gelap, terang, samar)

B. Lingkunganku (4 Pekan)

  1. Anggota Keluargaku
  2. Kebiasaan dalam keluarga (sehari-hari, sewaktu-waktu)
  3. Tugas anggota keluarga
  4. Tata tertib dalam keluarga
  5. Binatang peliharaanku
  6. Guna Rumah (beristirahat, berteduh, berkumpul keluarga)
  7. Macam rumah :
    • Berdasarkan bahan pembuatannya: rumah kayu, rumah ijuk, rumah bambu, rumah bata)
    • Berdasarkan kegunaannya : rumah tinggal, kantor, istana, tempat ibadah, tempat berobat, tempat binatang (kandang, sarang), tempat jual beli (toko, depot, warung, rumah makan, kios, supermarket)
  8. Bagina-bagian dalam rumah (pintu, jendela, atap, garasi, ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, ruang makan)
  9. Perkakas rumah
  10. Lingkungan rumah (kebun, halaman, kolam, tetangga)
  11. Guna sekolah dan tata tertib sekolah
  12. Alat sekolah, bagian-bagian sekolah dan kegunaannya
  13. Lingkungan sekolah

C. Kebutuhanku (4 Pekan)

  1. Macam, kegunaan makanan dan minuman
  2. Asal, persyaratan makanan dan minuman sehat
  3. Alat, tata tertib makan dan minum
  4. Macam dan kegunaan pakaian
  5. Beda pakaian muslim dan muslimah
  6. Tata tertib berpakaian
  7. Cara menjaga kesehatan dan kebersihan
  8. Akibat tidak menjaga kebersihan dan kesehatan
  9. Cara menjaga benda obat (korek api, pisau, paku, pecahan kaca, listrik)

D. Binatang (3 Pekan)

  1. Macam binatang
    • Binatang kesayangan
    • Binatang ternak
    • Binatang liar
    • Serangga
    • Burung
    • Ikan
  2. Makanan binatang
  3. Tempat tinggal binatang
  4. Cara berkembang biak binatang
  5. Kegunaan dan bahaya binatang
  6. Ciri- ciri binatang

E. Tanaman (3 Pekan)

  1. Macam tanaman
    • Pohon (cemara, pisang, beringin, kelapa)
    • Perdu/semak (cabe, tomat, terong)
    • Rumput (alang-alang, pandan, serai, dll)
  2. Guna Tanaman
    • Dimakan (buah, sayur, biji, air tebu, umbi)
    • Hiasan (bunga, tanaman hias)
    • Obat (jahe, temulawak, dll)
    • Bangunan
  3. Cara Memelihara Tanaman (disiram, di pupuk, dibersihkan)

SEMESTER II

A. BEPERGIAN (4 Pekan)

  1. Macam-macam kendaraan (darat, laut, udara)
  2. Guna Kendaraan
  3. Nama pengemudi dan tempat pemberhentiannya
  4. Bagian-bagian kendaraan
  5. Arti dan tata tertib bepergian
  6. Perlengkapan bepergian

B. PEKERJAAN (3 Pekan)

  1. Macam pekerjaan dan tugasnya
  2. Tempat bekerja
  3. Alat/perlengkapan kerja

C. AIR, UDARA, API (2 Pekan)

  1. Macam air
  2. Guna dan bahaya air, udara, api
  3. Asal dan sifat air, udara, api
  4. Arang, bara, asap dan abu

D. ALAT KOMUNIKASI (2 Pekan)

  1. Macam dan cara menggunakan alat komunikasi
  2. Dampak baik dan buruk alat komunikasi
  3. Bentuk alat komunikasi
  4. Macam-macam benda pos

E. TANAH AIRKU (3 Pekan)

  1. Nama negara dan ibu kota negara
  2. Presiden dan wakil presiden
  3. Pulau-pulau dan kota-kota besar di Indonesia
  4. Agama-agama dan suku-suku di Indonesia
  5. Pencaharian dan tata cara kehidupan di kota, desa dan pesisir
  6. Mengenal tempat tinggal anak

F. ALAM SEMESTA (3 Pekan)

  1. Alloh pencipta alam semesta
  2. Alloh pencipta gejala alam
  3. Guna matahari, bulan, bintang dan langit
  4. Macam-macam gejala alam (siang, malam, banjir, gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, angin puyuh, petir, ombak, pelangi)
  5. Menjaga dan memelihara lingkungan alam semesta
  6. Kapan dapat dilihat (bulan di malam hari, pelangi setelah hujan, matahari di siang hari)

Note : Untuk usia play group tanpa tema Tanah airku

AQIDAH

Tujuan : Anak faham/mempunyai keyakinan yang mantap dalam memeluk agama Islam

Membiasakan mengucap kalimat thayyibah (baik)

  1. Bacaan syahadat
    • اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا عبده و رسوله

      Artinya: “Aku bersaksi tiada sesembahan yang haq (benar)disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah hamba Allah dan utusan Allah.

  2. Bacaan basmallah

بسم الله الرحمن الرحيم

3.  Bacaan Ta’awudz

ااعوذ بالله من الشيطان الرجيم

4.  Bacaan tasbih, tahmid, takbir

سبحان الله الحمد لله الله اكبر

5.  Bacaan istighfar

ااستغفر الله

6.  Bacaan ketika berjanji, ketika kagum dan heran

اان شاء الله ما شاء الل

7.  Bacaan istirja’

اانا لله و انااليه راجعون

8.  Bacaan tahlil

لا اله الا الله

MENGENAL ALLOH

  1. Alloh Maha Esa
    • Tidak beranak, tidak beristri, pencipta dan pemilik segala sesuatu, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan.
    • Tiada yang berhaq di ibadahi selain Alloh
  2. Berdo’a, berkurban, bernadzar, takut dan berharap hanya kepada Alloh
  3. Alloh tidak sama dan  tidak serupa dengan ciptaanNya, mempunyai nama-nama dan sifat yang baik
    • Ar Rahmaan artinya Maha Pengasih
    • Ar Rahiim artinya Maha Penyayang
    • Al ‘aliim artinya Maha Tahu
    • As Sami’ artinya Maha Mendengar
    • Al Ghoniy artinya Maha Kaya
  4. Nama Alloh ada banyak dan tidak ada yang tahu jumlahnya kecuali Alloh sendiri. Nama Alloh selalu dengan sifat-sifatNya. Diantara sifat-sifat Alloh :
    • Ar rahmaan artinya bersemayam di atas arsy  (Q.S. Thaha :5)
    • Dan kekallah wajah Robbmu (Ar rahmaan : 7)
    • Diantara para rasul ada yang Allah berbicara langsung dengannya (Al baqarah :253)
    • Bahkan kedua tangan Allah terbentang (Al Maidah 64)
    • Dan datanglah Robbmu (Al Fajr:22)
  5. Mengenal Malaikat. Sifat Malaikat :
    • Malaikat di ciptakan dari cahaya, tidak berhenti bertasbih dan selalu taat kepada Alloh.
    • Malaikat memiliki tubuh yang sangat besar, serta mampu mengeluarkan suara yang sangat keras, sangat kuat dan memiliki akal yang cerdas.
    • Malaikat memiliki sayap yang berbeda-beda, ada yang memiliki 2, 3, 4 bahkan malaikat Jibril mempunyai 600 sayap.
    • Malaikat dapat berubah wujud menjadi bentuk manusia.

Demikian kurikulum yang saya pakai untuk anak-anak saya. Walaupun sebenanya materi di atas belum tuntas saya terapkan pada anak-anak saya. Saya sungguh terbantu dengan materi tersebut. Untuk waktu dalam setiap subbab di atas, saya tidak terpaku persis sesuai petunjuk di atas. Semua tergantung dari kemampuan masing-masing anak dalam cara penerimaannya. Terima kasih atas sharing dari ummiummi.com. Semoga kedepannya ada yang lebih bisa menyempurnakan atau menambahkan.

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

 

 

 

 

*Tiga doa yang janganlah kau lupakan dalam sujud*
1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah :

Allahumma inni as’aluka husnal khotimah

Artinya : ” Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah ”
2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan Taubat sebelum wafat :

Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut

Artinya: ” Ya Allah berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat ”
3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas Agamanya :

Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinika

Artinya: ” Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU ”
Lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun itu, karena tidaklah kau ketahui amal kebaikan apakah yang dapat menghantarkanmu ke Surga Allah

​RESEP KUE SUS COKLAT KERING

By: dapur moist
BAHAN KULIT

– 200 ml air

– 1 sdt baking powder

– 100 gr margarin

– 1 sdm gula pasir

– 1/2 sdt garam

– 125 gr terigu

– 3 butir telor
CARA MEMBUAT

– Air. Margarin. gula. garam didihkan, masukan terigu aduk sampai kalis, angkat biarkan anget kuku. Masukan telor satu”sambil dikocok mixer, jangan lupa baking powder juga, sampai lembut. 

– Masukan plastik segitiga, cetak, open suhu panas 20mnit. Pintu open jgn dibuka, abis itu kecilkan api, sekecil”nya, biarkan kulitnya coklat dan kering, angkat… 

– Lubangi pakai tusuk gigi, isi dg coklat dcc yg dilelehkan dg tambahan mentega putih, Biarkan set. masukin toples
Note: Coklat dcc di tim dulu, sama mentega tawar, habis itu maaukin plastik segitiga dan lubangin kecil aja ujungnya, trus semprot ke kulit kering yg atasnya udah d lubangi kcil dg tusuk gigi, masuikn toples.. Karna coklat akan set dg sendirinya

#coklatnya masukin plastik segitiga…

#250 dcc di tim dg 50 gr mntega putih

​Kurikulum Sekolah Kehidupan di Setiap Tahapan Usia Dini

Kurikulum Sekolah Kehidupan di Setiap Tahapan Usia Dini

Disusun oleh: Kiki Barkiah
Bagian 6

Hal yang penting dipelajari di usia 4-5

        
1. Memberikan pendidikan agama dan moral

Pada usia ini anak telah mengetahui agama yang dianutnya, anak dapat meniru gerakan beribadah dengan urutan yang benar, anak mulai dapat mengucapkan doa sebelum dan/atau sesudah melakukan sesuatu, anak dapat mengenal perilaku baik/sopan dan buruk 

Materi:

– Memberikan konsep agama melalui buku dengan bahasa sederhana atau dengan menyederhanakan bacaan

– Mengajak anak untuk melakukan ibadah shalat meski hanya sebatas gerakan dan belum memiliki kekonsistenan dalam melaksanakannya

– Mendekatkan anak dengan mesjid dengan sering mengajaknya shalat berjamaah atau menghadiri kegiatan majelis dzikir 

– Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah

– Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah

– Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik secara langsung dalam kehidupan sehari-hari

– Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik  melalui buku, permainan pura-pura atau cerita

– Memberikan pengertian tentang perilaku buruk, salah, atau tidak sopan saat mengalami peristiwa yang berkaitan dengan hal tersebut atau dengan menggunakan kisah dari buku

– Mencontohkan doa-doa singkat dan meminta anak menghafal secara bertahap

– Memberikan keteladanan dalam bersikap

– Memperdengarkan surat pendek secara berulang dan meminta anak menghafalnya secara bertahap

– Mengajak anak terlibat dalam kegiatan beribadah tanpa paksaan

– Mengajarkan sikap kasih sayang terhadap makhluk Allah (hewan, tumbuhan manusia)

– Memperkenalkan kisah nabi melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku

– Memperkenalkan kisah nabi melalui film kartun

– Memperkenalkan cuplikan kisah keteladanan dari sirah Rasulullah SAW dan sahabat melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
Adapun penekanan konsep agama yang disampaikan di usia ini baik melalui kisah nabi, Rasulullah saw, para sahabat maupun kisah fiktif yang menceritakan pengalaman sehari-hari diharapkan dapat membangun pemahaman anak sbb:

a. Allah sebagai pencipta

b. Allah sebagai pemberi rezeki

c. Allah sebagai pemilik segala sesuatu di alam jagat raya

d. Allah sebagai pembuat hukum atau aturan

e. Allah sebagai pemerintah 

f. Allah sebagai satu-satunya zat yang di sembah
2. Melatih perkembangan sosial dan emosi

Pada usia ini biasanya anak memiliki sikap mandiri dalam memilih kegiatan. Pada usia ini diharapkan anak telah bersedia berbagi dan bergiliran dengan temannya. 

Materi:

– Melatih anak untuk dapat berbagi perhatian orangtua dengan tamu

– Meltih anak memiliki rasa percaya diri

– Melatih anak memahami peraturan dan disiplin dalam mengikuti aturan

– Melatih anak memiliki sikap gigih (tidak mudah menyerah) 

– Melatih anak untuk menghargai hasil karya sendiri

– Memberikan apresiasi positif terhadap karyanya

– Melatih anak untuk dapat menjaga diri sendiri dari lingkungannya

– Melatih anak untuk menghargai keunggulan orang lain

– Mengembangkan sikap Mau gemar menolong orang lain, dan bersedia bekerjasama

– Mengembangkan sikap positif saat berpartisipasi dalam permainan kompetitif

– Mendorong anak unutk menaati aturan yang berlaku dalam suatu permainan

– Mengembangkan sikap menghargai orang lain dan menunjukkan rasa empati
3. Melatih perkembangan bahasa dan komunikasi     `

Pada usia ini anak  berkomunikasi dengan mudah, ia menggunakan kalimat yang detail dengan 4 atau lebih kata. Anak dapat duduk tenang lebih lama terutama untuk mendengar cerita. Pada usia ini anak juga semakin kritis dalam bertanya. Anak mengembangkan kesadaran terhadap jenis kelamin sehigga sangat ingin tahu mengenai konsep jenis kelamin . Anak mulai dapat menyampaikan pemikirannya dengan menggabungkan beberapa pengalaman. Di usia ini anak juga telah mampu membedakan antara fantasi dan kenyataan.

Materi:

– Membangun suasana yang nyaman bagi anak untuk bertanya dan menggali informasi

 – Membangun kebiasaan rutin membacakan buku dan mendiskusikan isi bacaan

– Sering meminta anak menceritakaan pengalaman atau kesan yang didapat dari sebuah pengalaman

– Mendiskusikan cerita yang didengar atau dilihat di TV

– Mengembangkan sikap sopan santun dalam menyimak perkataan orang lain 

– Melatih anak memahami dua perintah yang diberikan bersamaan 

– Menguji pemahan anak terhadap cerita yang dibacakan

– Mengenalkan perbendaharaan kata mengenai kata sifat baik positif maupun negatif

– Meminta anak  mengulang kalimat sederhana

– Melatih anak menggunakan kalimat yang benar saat bertanya

– Melatih anak menjawab pertanyaan sesuai konteks pertanyaan

– Melatih anak mengungkapkan berbagai perasaan yang dialaminya

– Melatih anak mengutarakan pendapat kepada orang lain

– Melatih anak menyatakan alasan terhadap sesuatu yang diinginkan atau alasan ketidaksetujuan 

– Meltih anak untuk menceritakan kembali cerita/dongeng yang pernah didengar

– Memperkaya perbendaharaan kata anak melalui buku yang membahas berbagai tema

– Mendorong anak untuk berpartisipasi dalam percakapan

                              
4. Melatih kemandirian, tanggung jawab dan pemecahan masalah

Pada usia ini anak dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri yang terkait dengan berbagai pemecahan masalah. Anak mulai bertanggung jawab dalam menggosok gigi dan menggunakan dental floss seiring meningkatnya koordinasi. Anak mulai menggunakan mata untuk mencari sesuatu secara sistematis. Anak sudah selesai toilet training. Anak biasanya sudah dapat menerima peraturan yang diberikan orangtua.

Materi:

– Membiasakan anak menyelesaikan tugas harian dengan jadwal yang lebih teratur

– Memahamkan pentingnya waktu

– Melatih anak memahami pola kegiatan harian

– Melatih anak untuk dapat mengikat tali sepatu sendiri
Materi:

Melatih anak untuk dapat bersuci dari instinja sendiri

Melatih anak makan sendiri dan dapat menggunakan sendok dan garpuang telah digunakan ke tempat cuci piring

Melatih anak untuk terbiasa menyimpan alat makan yang telah digunakan

Melatih anak mengenakan jaket tanpa batuan

Melatih anak mengancingkan atau memasang resleting jaket tanpa bantuan

Melatih anak mengenakan sepatu sendiri dengan benar

Metatih anak untuk terbiasa membereskan mainan sesudah bermain tanpa banyak dibantu

Melatih anak untuk terbiasa menyimpan baju kotor ke keranjang cucian

Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga sesuai kemampuannya

Melatih anak untuk memelihara barang pribadi miliknya

Melatih anak untuk dapat berada disebuah lingkungan tanpa ditemani orang tua atau pengasuh

Melatih anak untuk dapat bertamu singkat tanpa orang tua
5. Mengajarkan kemampuan kognitif

Pada usia ini anak memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga senang melakukan pengamatan pada benda dan berbagai gejala.  Pada usia ini diharapkan anak sudah mampu memahami semua konsep sederhana seperti besar/kecil, keluar/masuk, naik/turun, buka/tutup, dan telah mengenali benda yang biasa ditemui di rumah. Anak telah mengenali semua fungsi dari benda yang biasa ditemui di rumah. Anak telah memahami 8 warna dasar. Anak biasanya mulai menunjukkan minat untuk belajar membaca.

Materi:

– Meminta anak menyebutkan nama lengkapnya

– Membilang banyak benda satu sampai sepuluh

– Mengenalkan konsep bilangan 1-10

– Mengenalkan lambang bilangan 1-10

– Mengenalkan huruf dan bunyi huruf dengan metode yang ramah dan menyenangkan

– Mengajak anak mengklasifikasikan benda sesuai fungsi, bentuk, ukuran dan warna

– Mengajak anak memilah objek atau gambar yang hampir sama

– Meminta anak mencontoh gambar lingkaran dan kotak

– Meminta anak menyebutkan 2 atau 3 benda berlainan dalam konsep yang sama, misalnya angka, huruf, warna, buah-buahan dll

– Mengajak anak mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok yang sejenis dengan 2 variasi

– Meminta anak menyebutkan fungsi-fungsi benda 

– Bermain pura-pura dengan menggunakan benda sebagai simbolik

– Mengenalkan konsep sederhana dalam gejala alam sehari-hari 

– Mengenalkan kedudukan seseorang dalam silsilah keluarga

– Mengenalkan posisi benda dalam ruang dan terhadap benda lain

– Mengenalkan pola dan meminta anak mengulanginya
6. Melatih motorik kasar

Pada usia ini anak dapat berjalan dengan langkah mengayun, mereka bergerak dengan lebih percaya diri dengan lebih terkendali.

Materi:

Memberikan stimulus sehingga anak kita dapat:

– Berlari atau berhenti dengan perintah 

– Melompat dua atau tiga kali dengan satu kaki dalam satu garis

– Menangkap bola yang cukup besar

– Naik dan turun tangga dengan menggunakan kedua kaki bergantian

– Jungkir balik

– Memanjat

– Melompati sesuatu

– Menirukan gerakan binatang, pohon tertiup angin, pesawat terbang, dll

– Melakukan gerakan menggantung (bergelayut)

– Melempar sesuatu secara terarah

– Menangkap sesuatu secara tepat  

– Menendang sesuatu secara terarah

-Memanfaatkan alat permainan motorik di playground
7. Melatih motorik halus

Materi:

– Meminta anak menyalin bentuk sederhana

– Mengajak anak menjiplak bentuk sederhana mengikuti garis putus-putus

– Membuat garis vertikal, horizontal, lengkung kiri/kanan, miring kiri/kanan, dan lingkaran

– Mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media

– Mengontrol gerakan tangan yang meggunakan otot halus (menjumput, mengelus, mencolek, mengepal, memelintir, memilin, memeras) 
8. Melatih kontrol diri 

Pada usia ini  anak seringkali dapat meninggi atau menurun emosinya secara ekstrem. Anak di usia ini sangat ingin menyenangkan teman dan ingin menjadi seperti mereka. Anak juga sering memiliki keinginan dan terkadang masih bersikap berlebihan dalam meminta pemenuhan akan keinginannya.
Materi:

– Melatih anak memeiliki emosi yang wajar dengan melibatkan kisah-kisah teladan baik dari Kisah nabi, Sirah, maupun hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya tidak hanya mengenalkan apa yang tidak wajar namun sekaligus memotivasi mereka untuk berbuat apa yang seharusnya dilakukan serta meneladani kebaikan.

– Memberi pengertian dalam suasana yang lebih santai dan serius agar hikmah yang diperoleh bisa lebih dalam, hindari menasihati dalam keadaan emosi memuncak serta pada saat anak-anak masih dalam suasana perasaan yang enggan untuk diberi nasihat

– Memberi anak ruang dan waktu sebagai kesempatan untuk menenangkan diri pada saat emosi yang ekstrim sedang berlangsung

– Membangun komunikasi tentang aturan, manfaat dari aturan, serta konsekuensi logis dan natural dari pelanggaan aturan, sehingga pada saat anak-anak menunjukkan emosi yang ekstrim yang disebabkan karena penolakan terhadap aturan, maka kita hanya tinggal mengingatkan kembali aturan yang kita miliki

– Membangun identitas diri anak yang positif melalui kegiatan dialog, bercerita kisah teladan, berdiskusi hikmah kejadian, agar anak-anak semakin tau mana yang benar dan mana yang salah, sehingga ia termotivasi untuk tetap melakukan yang benar meskipun lingkungan melakukan sebaliknya

– Memberi pemahaman bahwa setiap manusia dapat memilih sikap dalam kehidupan, tetapi masing-masing memiliki kkonsekuensinya. Lalu istiqomahlah memotivasi anak-anak untuk senantiasa memilih kebaikan yang benar meskipun teman-temannya memilih yang sebaliknya

– Memberi perhatian dan apresiasi yang cukup atas pilihan mereka yang benar sehingga mereka tidak merasa bermasalah ketika menjadi beda dari orang-orang di sekitarnya

– Melatih anak untuk dapat menahan diri dari keinginan yang harus dipenuhi saat itu juga. Anak harus belajar bahwa dalam kehidupan ada banyak hal yang baru dapat diraih setelah meningkatkan ikhtiar atau setelah menunggu. Juga banyak hal yang tidak dapat diraih meskipun kita sangat menginginkannya. Caranya dengan tidak memenuhi semua keinginan anak seketika itu juga. 

– Memberikan pengertian ketika kita meminta mereka untuk menunggu pemenuhan keinginan atau ketika keinginan tersebut tidak dapat kita penuhi. Biasanya suasana akan memburuk ketika keinginan anak tidak terpenuhi, hindari mengubah keputusan untuk menolak atau menunda pemenuhan keinginan karena perubahan sikap anak. Anak akan menjadikan perubahan sikap mereka sebagai senjata di kemudian hari. Tetaplah konsisten dengan keputusan kita. Jika konsistensi kita menimbulkan kemudhorotan yang lebih besar kita dapat menawarkan alternatif penganti, namun jangan pernah menawarkan kembali sesuatu yang sudah kita tolak. Misal “Tidak! kalo beli permen tidak boleh, adek lagi batuk, tapi kalo roti boleh”
9. Melatih pola hidup sehat dan keamanan diri 

Materi:

– Mengajarkan anak menghafal alamat rumah dan nama lengkap orang tua

– Melatih anak menggunakan toilet dengan bantuan minimal

– Mengajarkan anak kewaspadaan terhadap bahaya seperti kebakaran, banjir, gempa

– Mengenalkan rambu lalu lintas yang ada di jalan
10. Melatih kemampuan seni`

Pada usia ini anak lebih dapat menikmati kegiatan seni seperti bernyanyi, menari, dan bersandiwara. Anak juga dapat membangun bentuk yang semakin rumit. Anak telah dapat menggunakan imajinasi untuk mencerminkan perasaan dalam sebuah peran. Anak juga mampu membedakan peran fantasi dan kenyataan

Materi:

– Meminta anak menggambar gambar sederhana dan menceritakan makna di balik gambar tersebut

– Menggunakan dialog, perilaku, dan berbagai materi dalam menceritakan suatu cerita 

– Mengajak anak melakukan senam atau bergerak mengikuti irama 

– Meminta anak menggambar objek di sekitarnya

– meminta anak membentuk plastisin berdasarkan objek yang dilihatnya

– Meminta anak mendeskripsikan sesuatu  dengan ekspresif yang berirama contoh menirukan gerak hewan

– Mendorong anak untuk mengkombinasikan berbagai warna ketika menggambar atau mewarnai
 Referensi Kurikulum:

Al- Quran dan Hadist

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomer 137 tahun 2014 tentang Stanar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini

Slow and Steady Get Me Ready, June R Oberlander

The Good Housekeeping Book of Child Care: Inicluding Parenting Advice, Health Care & Child Development for Newborns to Preteens; From the Editors of Good Housekeeping; Hearst Book, 2004

AMAL YANG DITERIMA

Oleh : Iin Rosliah

Cinta dan semangat saja tak cukup dijadikan modal agar amal diterima Allah SWT. Ada dua syarat yang mutlak harus dipenuhi supaya amal tidak sia-sia di hadapan-Nya.

  1. Pertama, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, bukan karena motivasi duniawi atau ingin meraih puji.
  2. Kedua, muwafaqah, artinya amal yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah SAW.

Ikhlas dan muwafaqah, ibarat dua sisi mata uang, saling terkait dan tak dapat dipisahkan. Ibnu Katsir saat menafsirkan QS Al Kahfi: 110 menguraikan, ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW merupakan dua rukun amal yang akan diterima. Rukun adalah tiang. Sebuah bangunan akan terwujud manakala kedua tiangnya berdiri tegak. Begitu pula amal, akan diterima ketika dua syaratnya terpenuhi.

Ketika kita beribadah karena ingin mendapat sanjungan sesama, berarti hati kita telah mendua. Dalam kacamata agama, ini dikategorikan sebagai perbuatan syirik yang akan menghalangi diterimanya amal oleh Allah SWT. ”Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS Al Kahfi;110).

Ibnul Qayyim mengibaratkan orang yang beramal tanpa keikhlasan seperti seorang musafir yang mengisi penuh kantongnya dengan pasir. Ia membawanya, tapi tidak mendapatkan manfaat apa pun. Walau secara lahiriah tampak besar dan bagus, bila tak dihiasi dengan keikhlasan, amal apa pun menjadi tak bermakna dalam pandangan Allah SWT. Alhasil, bukannya pahala yang diraih, justru azab yang didapat.

Jangan pula sampai terjadi seperti tiga orang Muslim di hadapan mahkamah Allah SWT kelak. Imam Muslim meriwayatkan, ada seorang mujahid, seorang alim, dan seorang dermawan. Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang didapat ketiganya. Pasalnya, amal yang mereka lakukan hanya untuk mengejar prestise. Yang satu berjuang agar disebut syuhada. Yang kedua menuntut ilmu dan mengajarkannya agar disebut ulama. Dan yang terakhir menginfakkan hartanya agar dinilai sebagai dermawan.

Setelah ikhlas, syarat berikutnya adalah kesesuaian setiap amal dengan tuntunan dalam Alquran dan sunah. Ini mengandung makna, ibadah apa pun yang diperbuat, hendaknya dilandasi oleh ilmu. Beribadah tanpa dasar ilmu, cenderung menjadikan perasaan sebagai standar. Baik buruk bukan diukur oleh dalil, tapi semata-mata menimbang rasa. Alhasil, mudah tergelincir dalam perbuatan bid’ah, mengada-ada dalam urusan ibadah.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa mengerjakan satu amalan yang tak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim).

***

Sumber: Republika

MENIKMATI BUAH IBADAH

Menikmati Buah Ibadah

Assalamualaikum wr. wb. Wahai Saudari saudaraku yang dimuliakan Allah SWT. Ibadah adalah aktifitas jasmani dan ruhani bagi orang beriman yang dimanifestasikan dalam bentuk amaliyah dan dipersembahkan kepada Allah SWT. serta mencari keridhaan- NYA. Yang dimaksud ridha adalah ketaatan yang diterima oleh Allah SWT. karena ibadah tersebut dilaksanakan semata mata untuk mendapatkan anugerah dan diniatkan penuh keikhlasan, jauh dari sifat ‘ ujub. Orang yang ridha (suka dan senang) memberikan sesuatu kepada sesamanya, adalah orang yang artinya ia menyerahkan sesuatu tersebut dilakukan dengan hati rela, tidak karena mengharapkan balasan atau ingin mendapatkan pujian. Ridha dalam ibadah berarti melaksanakan ketaatan semata mata karena Allah. Tidak ada sesuatu yang menyertainya. Orang yang ridha dalam ibadahnya, maka Allah juga ridha dalam menerima persembahan ibadahnya dan memantapkan ketaatannya murni di sisi-NYA. Orang yang ridha dalam ibadah, Allah pun ridha kepadanya. Ketika seorang hamba telah menerima keridhaan Allah dari ibadahnya yang tulus, maka ia berada dalam suasana yang membahagiakan. Tumbuh cahaya dalam hatinya, karena keridhaan Allah memberikan cahaya bagi ruhaninya. Ia akan mendapatkan kenikmatan dan kelezatan dalam ibadah sebagai anugrah pertama di saat berada di dunia. Itulah buah ibadah. Hamba Allah yang telah mendapatkan kenikmatan dari ibadahnya, adalah tanda bahwa ibadahnya telah diterima oleh SWT. Kenikmatan dari buahnya ibadah hanya dapat dirasakan tatkala si hamba sedang melaksanakannya. Jika ia belum dapat merasakan lezat dan nikmatnya ibadah, berarti ibadah yang diamalkan belum menghasilkan buah. Ibadahnya baru pada kulitnya, belum masuk kepada kedalaman isinya, sehingga buah ibadah belum dinikmatinya. Seorang ahli tasawuf berkata : ” Saya telah melaksanakan shalat lail selama dua puluh tahun, dan barulah saya mendapatkan kenikmatannya pada tahun ke dua puluh.” Seorang sufi lainnya berkata : ” Saya telah melatih diri membaca Al-Qur’an selama dua puluh tahun. Setelah dua puluh itu barulah saya merasakan dan mengenyam kenikmatannya. ” (Berarti tahun kedua puluh dari pembacaan Al-Qur’annya itu). Para Ulama salaf menjelaskan : ” Bahwasanya halawah (lezat) dan nikmatnya membaca Al-Qur’an itu akan diperoleh apabila bacaannya dilaksanakan dengan tertib, memahami maknanya, dan seakan akan berada di hadapan Rasulullah SAW, seperti beliau sedang mengajar sahabat-sahabatnya. Demikian juga apabila seseorang sedang membaca shalawat, hendaknya ia membayangkan seakan-akan sedang berada di hadapan Rasulullah SAW. Ia meresapkan bacaan shalawat itu dengan tawadhu’ seakan-akan ia sedang berdialog dengan junjungan Nabi SAW. Karena shalawat yang diucapkannya, didengar oleh Nabi SAW. di dalam kuburnya. Demikian juga apabila ia sedang membaca zikir, atau menyebut asma asma Allah dengan perasaan dan hati tulus, menghidmati kebesaran Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-NYA. Hendaklah merasakan di kedalaman kalbunya akan keagungan Allah. Dengan cara ini ia akan merasakan nikmatnya berzikir. Seorang sufi lain berkata: ” Apabila seorang hamba bersungguh sungguh dalam ibadahnya niscaya ia akan merasakan halawah (manis) beribadah. Amal seperti inilah yang Insyah Allah akan terkabul. Ibadah yang tidak menimbulkan rasa halawah adalah ibadah yang belum bersih. Ibadah yang masih bercampur dengan kotoran-kotoran ujub dan ria. Allah SWT. mengingatkan : ” Hanyalah Allah akan menerima (ibadah) orang orang yang takwa.” (QS.Al-Maidah ayat 27). Semua amal ibadah yang dilaksanakan dengan penuh ketaatan dan dihiasi dengan keihlasan oleh seorang hamba, niscaya akan memunculkan kelezatan halawah, serta akan dianugerahkan untuknya buah ibadah di akhirat yang benar-benar indah. Sebaliknya, amal ibadah yang dilaksanakan dengan niat yang jauh dari ridha Allah, bercampur dengan kepentingan duniawi yang kotor, kemudian dihiasi dengan ujub dan ria, niscaya tidak memperoleh apa pun di dunia dan di akhirat dia akan menjadi orang yang bangrut/merugi. Walaupun demikian janganlah seorang hamba, merasa bangga atas amal ibadahnya, atau merasa puas, sebab perasaan demikian akan menodai amal ibadah dengan ujub dan ria. Akibatnya akan merusak amal. Selanjutnya ia tidak akan merasakan halawah dan kenikmatannya. *** Sumber : Diambil dari buku karya DJamaluddin Ahmad Al-Bunny. Kiriman: Dwi Nopitasari

My First Blog

Assalamu’alaykum sahabat MuZA

Bismillah…

Alhamdulillah..akhirnya punya blog juga..walopun masih blog gratisan.

Perkenalkan saya syafri..Ibu 2 putra hebat, Zaid (4yo) dan Ammar(2yo).

Sebenarnya udah lama banget pengen punya blog. Pengen mengabadikan setiap kisah istimewa bersama Keluarga Cinta. Pengen mengarsipkan setiap ide dan ilmu2 baru. Agar kapanpun ingin mengenang kembali, atau memerlukan portofolionya,bisa dengan mudah meluncur kesini.

Semoga berkah dan bermanfaat 🙂

Aamiin

 

Best Regard

Ummi Bidadari

 

 

 

 

ADAB MENUNTUT ILMU

Alhamdulillah…syukur tiada terkira bisa bergabung bersama ibu2 dan calon ibu keren di Kelas Matrikulasi Ibu Professional batch 3 ini. Bahagia bisa bergabung bersama ibu2 pembelajar yang ingin menjadi lebih baik dan semakin baik.

Sesi pertama ini para peserta mendapat materi yang sangat penting. Yup..adab menuntut ilmu. Suatu hal yang sudah banyak hilang di zaman ini.

Yuk, simak lengkapnya 🙂

 

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015